Minggu, 23 September 2012

Bacalah dan Raihlah Sukses

Bacalah dan Raihlah Sukses
by Rahmat Mr.

Saya kira sudah banyak orang yang memahami bagaimana pentingnya arti
membaca. Membaca adalah salah satu cara menuntut ilmu. Ilmu untuk apa?
Banyak sekali mulai menuntut ilmu agama, karir, bisnis, dan sebagainya.
Bahkan ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah
perintah membaca.

Namun disayangkan, mengapa masih banyak orang yang menyepelekan arti
membaca. Coba perhatikan bagaimana mereka mengatakan kalimat-kalimat
seperti:

* “Ah teori.”
* “Yang penting praktek.”
* “Yang penting bertindak.”

Padahal salah satu cara Allah memberi pelajaran kepada manusia ialah
dengan kemampuan baca tulis. Kita diberi kemampuan untuk membaca dan
menulis, artinya membaca dan menulis adalah bagian dari kehidupan kita.

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.” (QS. ‘Alaq:3-4).

Membaca memang tidak memberikan hasil yang instan. Memang diperlukan
tindakan setelah membaca. Tapi ketahuilah ada perbedaan kualitas
tindakan antara orang yang malas membaca dengan orang yang mau membaca.
Itulah mengapa tenaga terdidik memiliki gaji yang lebih besar
daripapada pekerja yang tidak terdidik.

Pembelajaran berkesinambungan adalah persyaratan minimum untuk sukses dalam bidang apapun. ~Denis Watley

“Banyak pebisnis sukses yang sekolahnya rendah dan tidak suka membaca.”

Memang ada. Tapi para pebisnis besar, sekali lagi para pebisnis besar,
adalah orang yang mau membaca. Bisa digambarkan dari anjuran mereka
untuk membaca, Robert T Kiyosaki menyuruh kita rajin membaca agar kita
melek finansial. Donald Trump juga menyuruh kita mau belajar. Termasuk
Denis Watley yang kita kutip kata-katanya.

Tung Desem Waringin sampai menghabiskan ribuan dolar untuk belajar ke
Amerika. Saat saya membaca bukunya, tergambar jelas bahwa isi bukunya
adalah selain isi dari pengalamannya juga terinspirasi oleh banyak buku
lain. Saya yakin Tung Desem Waringin pun suka membaca.

Mungkin, untuk jaman sekarang masih memungkinkan seorang yang miskin
informasi untuk sukses. Namun, saya memprediksi untuk masa depan akan
semakin sempit saja peluangnya. Misalnya, ada dua orang yang sama-sama
bekerja keras, si A memiliki informasi yang lengkap dan benar,
sementara si B tidak memiliki informasi yang memadai. Mana yang
memiliki peluang sukses lebih besar?

Yang salah adalah saat orang yang rajin belajar namun tidak
mengaplikasikan dan tidak menggunakan ilmunya. Dia hanya membaca tetapi
tidak pernah mengambil tindakan. Perilaku seperti inilah yang tidak
boleh. Orang seperti ini memiliki peluang yang lebih kecil dibanding
orang yang mau bekerja keras meski dia kurang ilmu.

Jumat, 14 September 2012

Trik-trik berdagang agar cepat laku

 

1. tipe barang dagangan
ada beberapa cara memilih barang yang mau diperdagangkan secara efektif, yaitu:


- sesuaikan dengan minat kita

misal, ane sangat tertarik dengan dunia elektronika, utak atik tivi, dvd player, dll, maka barang jenis ini layak untuk diperdagangkan, karena pasti ane akan lebih menikmati proses mencari uang dengan menjual barang2 tsb.

- sesuaikan dengan karakteristik daerah tempat tinggal kita
jika ane tinggal di kampung yang agak pedalaman, maka tidak layak kalau ane buka showroom mobil di sana, atau butik baju2 berkelas, karena pasti peminatnya juga akan sangat sedikit. begitu pula jika ane tinggal di kota besar, gak akan banyak peminat kalau ane jualan gerabah dari tanah liat, atau aneka caping yang biasa dipakai petani.


- sesuaikan dengan modal kita
intinya, modal besar --> carilah barang dagangan yang cepat terjual (fast moving) meskipun margin nya sedikit
modal kecil --> carilah barang dagangan yang margin nya besar sekalipun lama terjual (slow moving)
penjabaran tentang ini akan dibahas lebih detil di bawah

2. membaca kekuatan modal 
point kedua ini akan sekaligus menjelaskan tentang "sesuaikan barang dagangan dengan modal kita"
misal ane punya modal 10juta, dan ane dagang barang2 sembako yang keuntungan rata2 per pcs nya 3%.
barang sembako adalah barang yang fast moving, jadi barang-barang ane cepat habis dan cepat masuk stok, lalu habis lagi, dst..
agar lebih mudah, begini ilustrasinya:
10jt -- hari ke-3 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,3jt
10,3jt -- hari ke-6 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,6jt
10,6jt -- hari ke-9 barang habis, untung 3%, modal jadi 10,9jt
dst..
sampai pada hari ke-30 (1 bulan) barang habis, modal menjadi 13,43jt

sekarang misal ane punya modal 10jt, dan ane dagang baju (eceran pastinya), yang keuntungan mencapai 30% per pcs, tapi slow moving
10jt -- hari ke-7 barang habis, untung 30%, modal jadi 13jt
13jt -- hari ke-14 barang habis, untung 30%, modal jadi 16,9jt
16,9jt -- hari ke-21 barang habis, untung 30%, modal jadi 21,9jt
21,9jt -- hari ke-28 barang (1 bulan) habis, untung 30%, modal jadi 28,5jt

nah berarti bisa disimpulkan, modal kecil harus jualan barang yang margin nya besar, sekalipun barang tsb slow moving.

nah, sekarang, misal ane punya modal 100jt, ane jualan sembako. jika disamakan dengan ilustrasi di atas, maka pada hari ke-30 (1 bulan) barang habis, modal menjadi 130,43jt

sedangkan kalo ane bisnis baju (eceran), gak akan sesuai dengan ilustrasi sebelumnya. mengapa? karena bisnis baju eceran slow moving, dan jika kita stok barang hingga senilai 100juta, bisa dipastikan barang tidak akan cepat habis terjual. jika mau cepat habis terjual, maka harus jual grosir yang margin nya mungkin berkisar 5-10% saja, dan tetap saja tidak berputar secepat jual sembako.

jadi kesimpulannya, modal besar harus jualan barang yang fast moving, sekalipun marginnya kecil

3. jangan terlalu manjakan pelanggan!

pepatah lama bilang, "pelanggan adalah raja"
tapi ane berani bilang, "tidak semua pelanggan adalah raja"
kenapa? karena tidak semua pelanggan loyal terhadap kita!
kita semua adalah pelanggan, pelanggan warung tetangga, pelanggan operator selular, pelanggan tukang sayur, pelanggan angkot, dll
sekarang, misal ada tukang sayur baru yang jual lebih murah dari tukang sayur langganan kita, apakah kita tidak tertarik untuk pindah langganan? belum lagi jika tukang sayur tsb lebih lengkap dagangannya, bisa diutang lagi
begitu pun kita, dalam berdagang, akan banyak kejadian pelanggan yang suka berpindah-pindah. sekalipun kita servis dia dengan nilai plus, berupa diskon, atau layanan yang ramah, bahkan hutang, tapi tidak akan ada pelanggan yang 100% loyal terhadap anda!
misal ane jualan sembako, ane jual minyak goreng murah, tapi di sebelah ane ada warung yang jual terigu murah, maka bisa saja terjadi, pelanggan ane hanya beli minyak goreng ke ane (hutang lagi) tapi diam2 beli terigu ke warung sebelah, sekalipun ane sudah mati2an menjaga dia supaya belanja hanya ke tempat ane (biasanya diikat dengan memberi hutang ke pelanggan tsb). besoknya, ane turunin harga terigu ane, eh pelanggan tsb tetep aja belanja ke sebelah, karena timbangannya lebih "anget" di sana. besoknya lagi timbangan terigu ane "angetin", dia teteppp aja belanja ke sebelah, karena ternyata dia suka sama pedagang nya yang guanteng

Percepatan Sukses‏

Para pebisnis besar, adalah orang yang mau membaca. Bisa digambarkan
dari anjuran mereka untuk membaca,
=================
Bacalah dan Raihlah Sukses
by Rahmat Mr.

Saya kira sudah banyak orang yang memahami bagaimana pentingnya arti
membaca. Membaca adalah salah satu cara menuntut ilmu. Ilmu untuk apa?
Banyak sekali mulai menuntut ilmu agama, karir, bisnis, dan sebagainya.
Bahkan ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah
perintah membaca.

Namun disayangkan, mengapa masih banyak orang yang menyepelekan arti
membaca. Coba perhatikan bagaimana mereka mengatakan kalimat-kalimat
seperti:

* “Ah teori.”
* “Yang penting praktek.”
* “Yang penting bertindak.”

Padahal salah satu cara Allah memberi pelajaran kepada manusia ialah
dengan kemampuan baca tulis. Kita diberi kemampuan untuk membaca dan
menulis, artinya membaca dan menulis adalah bagian dari kehidupan kita.

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.” (QS. ‘Alaq:3-4).

Membaca memang tidak memberikan hasil yang instan. Memang diperlukan
tindakan setelah membaca. Tapi ketahuilah ada perbedaan kualitas
tindakan antara orang yang malas membaca dengan orang yang mau membaca.
Itulah mengapa tenaga terdidik memiliki gaji yang lebih besar
daripapada pekerja yang tidak terdidik.

Pembelajaran berkesinambungan adalah persyaratan minimum untuk sukses dalam bidang apapun. ~Denis Watley

“Banyak pebisnis sukses yang sekolahnya rendah dan tidak suka membaca.”

Memang ada. Tapi para pebisnis besar, sekali lagi para pebisnis besar,
adalah orang yang mau membaca. Bisa digambarkan dari anjuran mereka
untuk membaca, Robert T Kiyosaki menyuruh kita rajin membaca agar kita
melek finansial. Donald Trump juga menyuruh kita mau belajar. Termasuk
Denis Watley yang kita kutip kata-katanya.

Tung Desem Waringin sampai menghabiskan ribuan dolar untuk belajar ke
Amerika. Saat saya membaca bukunya, tergambar jelas bahwa isi bukunya
adalah selain isi dari pengalamannya juga terinspirasi oleh banyak buku
lain. Saya yakin Tung Desem Waringin pun suka membaca.

Mungkin, untuk jaman sekarang masih memungkinkan seorang yang miskin
informasi untuk sukses. Namun, saya memprediksi untuk masa depan akan
semakin sempit saja peluangnya. Misalnya, ada dua orang yang sama-sama
bekerja keras, si A memiliki informasi yang lengkap dan benar,
sementara si B tidak memiliki informasi yang memadai. Mana yang
memiliki peluang sukses lebih besar?

Yang salah adalah saat orang yang rajin belajar namun tidak
mengaplikasikan dan tidak menggunakan ilmunya. Dia hanya membaca tetapi
tidak pernah mengambil tindakan. Perilaku seperti inilah yang tidak
boleh. Orang seperti ini memiliki peluang yang lebih kecil dibanding
orang yang mau bekerja keras meski dia kurang ilmu.

Ingin berhasil??? Tirulah si bodoh



Sumber : Bob Sadino
Banyak sekali pertimbangaan seseorang dalam meraih mimpinya, sehingga yang ada hanyalah tinggal menjadi angan-angan belaka. Pada kenyataan-nya justru orang bodoh lah yang lebih sukses karena setiap kali ada peluang, dia yang selalu lebih dulu berani mencoba. Berikut adalah beberapa motivasi yang dapat menyadarkan kita bahwa banyaknya kesempatan emas yang telah hilang akibat kepintaran seseorang:

1. Terlalu Banyak Ide -
Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak
satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya

2. Miskin Keberanian untuk memulai -
Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.

3. Telalu Pandai Menganalisis -
Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh”tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4. Ingin Cepat Sukses -
Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkan hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

5. Tidak Berani Mimpi Besar -
Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.

6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi -
Orang “Pintar”menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.

7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai -
Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.

8. Maunya Dikerjakan Sendiri -
Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.

9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan -
Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.

10. Tidak Fokus -
Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.

11. Tidak Peduli Konsumen -
Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12. Abaikan Kualitas -
Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

13. Tidak Tuntas -
Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh”mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.

14. Tidak Tahu Prioritas -
Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh”? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan prioritas

15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas -
Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

16. Menacampuradukan Keuangan -
Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.

17. Mudah Menyerah -
Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut